-->

Rabu, 25 April 2012

Ilmu Tidur





Tidur itu ada ilmunya. Mulai dari soal bagaimana agar nyenyak, berkualitas, atau solusi untuk insomnia (susah tidur di malam hari. Hingga jenis-jenis mahluk yang digolongkan nocturnal (tidurnya siang, malamnya beraktifitas). Ilmu-ilmu dikembangkan dari basis pengetahuan tidurologi ini. Ada lucid dream, istilah untuk orang yang ketika bermimpi masih memiliki kesadaran bahwa ia sedang bermimpi. Ada istilah REM atau Rapid Eye Movement. Ada juga cabang ilmu bernama psikoanalisa yang studi mayornya adalah membongkar alam bawah sadar melalui—salah satunya—ya mimpi ini.

Tidak tanggung-tanggung, memalui tidur pulalah para Nabi menerima wahyu. Nabi Ibrahim diperintah mengurbankan Ismail, melalui mimpi. Dalam beberapa hal, wahyu untuk nabi Muhammad juga disampaikan melalui mimpi. Hingga kemudian ada nabi Yusuf. Nabi yang terkanal paling ganteng. Beliau dipilih sebagai nabi melalui isyarat mimpi 11 bintang, matahari, dan bulan bersujud kepada beliau. Selanjutnya, beliau ini jago menafsirkan mimpi. Al-Qur’annya menyebut ilmu tafsir mimpi ini sebagai Ta’wil al-Ahadits.

Inilah nubuwah beliau. Seperti yang dikisahkan dalam surah Yusuf. Beliau bermimpi melihat 11 bintang, matahari, dan rembulan bersujud kepada beliau. Mimpi lagi tentang tujuh sapi ekor gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh sapi ekor sapi kurus-kurus. Rabbi qad ataitani minal mulki wa allamtani min ta’wilil ahadits. Dua kata terakhir tadi adalah ilmu yang dimiliki oleh nabi Yusuf, Ta’wilil Ahadits. Kita kemudian akrab mendengar ilmu ini sebagai Ilmu Tafsir Mimpi. Tidak kurang buku-buku ditulis dari berbagai budaya untuk niteni isyarat-isyarat dan tafsir dari mimpi-mimpi yang pernah ada. Meskipun tidak sampai ke derajat ilmiah, tapi budaya kreatif ini tetap mengagumkan.

Al-Qur’an memiliki dua kosa kata untuk mimpi. Yang pertama adalah ra’yu. Ini berarti mimpi yang ada alurnya, jelas, memiliki makna, dan mengandung pesan tertentu. Penurunan wahyu dari Allah biasanya menggunakan jenis mimpi ini. Perhatikan kosa kata yang digunakan untuk menyebut mimpi dalam kisah nabi Ibrahim dan Yusuf. Semuanya memakai ra’yu. Di sini, nabi Muhammad mengatakan bahwa nubuwah itu masih tersisa untuk zaman kita. Salah satunya melalui mimpi yang jelas ini. Sedang yang kedua, hilm. Ini untuk mimpi-mimpi biasa, yang tidak dijamin asal dan kebenarannya. Mimpi yang bisa jadi punya makna, bisa jadi iseng, bisa jadi mimpi buruk. Bisa berasal dari pikiran, dari reaksi tubuh, dari setan, atau alam bawah sadar.